Subscribe:

Labels

28 Jun 2011

Hingga Didepak PSSI Antara Stopper & Striker,


Perjalanan berliku mewarnai karier seorang Sarman Panggabean. Ya, setumpuk cerita tersimpan dalam memori legenda Timnas Indonesia ini, saat masih mengenakan jersey Merah Putih hingga kiprahnya tak dianggap lagi oleh PSSI.

Merasa beruntung lantaran terlahir dan tinggal di dekat Stadion Teladan, Medan, Sarman sudah memiliki obsesi menjadi pemain sepakbola sejak duduk di bangku SD. Bermula hanya sebagai penghuni tribun stadion, pria kelahiran 1947 silam 'naik pangkat' menjadi bocah pemungut bola setiap klub kebanggaan kota asalnya, PSMS Medan menggelar latihan.

Tercatat pada 1964, Sarman mulai bergabung dengan PSMS Kombinasi Seleksi, atau saat ini dikenal dengan tim junior. Tak lebih dari dua tahun, Sarman sukses menembus tim senior dan menjadi ujung tombak andalan PSMS. Namun di tengah perjalanan, sang pelatih memintanya berganti posisi dan tak tanggung-tanggung, dia harus memainkan peran sebagai stopper atau pemain belakang.

"Agak aneh juga karena biasa jadi stiker. Saya sempat berpikir kalau pelatih menyudutkan saya," kisah Sarman, saat ditemui di sela-sela melatih tim Persija amatir di Lapangan Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, Jumat (24/6/2011) sore.

Karier Sarman terbilang cukup gemilang. Pada 1967, saat belum genap 19 tahun, dia sukses tercatat sebagai salah satu pemain muda di Timnas Indonesia. Sama halnya seperti di PSMS, Sarman ditempatkan menjadi stopper. Karena keinginan kuat menjadi striker, dia dianggap pembangkang oleh pelatih dan akhirnya hanya menghiasi bangku cadangan selama dua tahun.

"Saya pernah cetak gol dimarahi karena sepakbola waktu itu masih kuno. Jadi stopper tidak boleh ikut menyerang," cerita Sarman, seraya mengingat saat menjebol gawang Australia dalam laga ujicoba di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada 1972 silam, di mana Indonesia menang 4-2.

Hasrat Sarman menjadi seorang bomber perlahan mulai terwujud. Pada 1971, dirinya meminta pada pelatih PSMS untuk menempati posisi gelandang. Alhasil, dia mengantarkan PSMS menjuarai liga berkat gol semata wayangnya ke gawang Persija Jakarta. Namun, pembuktian tersebut rupanya tak berlaku di timnas.

Sarman tetap menyandang predikat stopper kala Indonesia mengikuti pra-Piala Dunia 1978 di Australia, pada 1975 silam. Dia sempat mengancam kembali ke Tanah Air, jika pelatih tidak mengganti posisinya. Hingga akhirnya, dia diizinkan menjadi gelandang dan sempat menjebol gawang Selandia Baru. Sayang, Indonesia tersingkir lantaran menyerah 0-4 dari Australia. "Kita dicurangi tuan rumah, padahal semua golnya berbau offside," kenangnya.

Setahun kemudian, Sarman terpaksa meninggalkan timnas dan harus menjalani masa kepegawaian di Bank Bumi Daya. "Atas instruksi Presiden Soeharto, tujuh pemain timnas dikaryakan di sejumlah BUMN," imbuhnya. Namun hanya setahun vakum, Sarman kembali memperkuat timnas hingga mengakhiri karier sebagai pemain pada 1979.

Bersama para mantan punggawa Timnas, Sarman menjalani pendidikan kepelatihan pada 1981. Karena menjadi lulusan terbaik, dia diminta Ketua Umum PSSI kala itu, Kardono, untuk menangani timnas. Dia pun membayar lunas kepercayaan ketua umum dengan mempersembahkan medali emas pertama SEA Games, saat Indonesia menjadi tuan rumah pada 1987 silam. Sebelumnya, di pentas Asian Games 1986, Sarman mengantarkan timnas hingga babak semifinal.

Setelah meletakkan jabatan pelatih timnas pada 1988, Sarman melanjutkan kiprah menjadi pengurus PSSI sebagai Ketua Bidang Remaja dan Ketua Bidang Evaluasi Pelatih, di masa kepemimpinan Ketua Umum Kardono hingga Azwar Anas. Sayang, dia dipecat oleh Azwar Anas lantaran 'ngotot' memagari para pemain timnas dari penyuapan.

Namun, kepedulian Sarman pada sepakbola Tanah Air tak berhenti sampai di situ. Bersama eks punggawa timnas, dia mendirikan Perhimpunan Pemain Sepakbola Nasional (PPSN) pada 2009, dan menjabat sebagai ketua hingga saat ini. "Mantan pemain era 70an sudah di-black list di PSSI, makanya kami tidak dipanggil Nugraha Besoes dan Nurdin Halid untuk menjadi pengurus. Padahal kami sudah mengirim surat pengajuan pada mereka," sesalnya.

Ya, sepakbola seakan sudah mendarah daging dalam diri Sarman. Sempat menjadi pelatih PSMS dan Persija Utara, kini dia mengisi masa pensiunnya dengan melatih klub Persija amatir. Jelang pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015, Sarman bertekad menembus kepengurusan dengan ambisi mendongkrak kembali kejayaan Garuda Merah Putih.

"Saya akan bicara atas nama pribadi dan organisasi pada pengurus PSSI yang terpilih nanti," tegas Sarman, yang masih menyimpan keinginan kuat menjadi pelatih timnas lagi, seraya mengakhiri perbincangan.

1 komentar:

Posting Komentar